Kenapa ‘Mine Discovery Rate’ Turun: Opini Pribadi Sebagai Gen Z

Penurunan mine discovery rate bukan cuma soal geologi yang makin kompleks atau endapan yang makin sulit ditemukan. Dari kacamata kami, Generasi Z, ada beberapa hal yang lebih dalam dan personal yang mungkin jarang dibahas dalam laporan industri atau forum ilmiah: perubahan nilai, prioritas hidup, dan krisis identitas profesi di generasi kami sendiri. Hal ini terlepas dari regulasi pemerintah dan global yang dinamis.

Sebagai anak geologi yang tumbuh di era digital dan pengalaman 3 tahun lebih di berbagai perusahaan, aku punya kesempatan ngobrol dengan banyak teman dari berbagai universitas di Indonesia. Dari obrolan-obrolan santai, diskusi jurusan, hingga nongkrong larut malam, ada beberapa pola menarik dan sama yang aku tangkap:

1. Generasi Z Mulai Melupakan Arti “Discovery”

Kata “discovery” itu keren saat kuliah tahun pertama. Saat kita disuguhkan dengan cerita tentang penemuan Grasberg, kisah geologist legendaris, atau prospek-prospek besar yang katanya bisa mengubah peta industri tambang. Tapi makin ke sini, makin sedikit yang benar-benar peduli soal itu.

Banyak dari kami yang justru lebih tertarik ke bidang yang lebih “aman” seperti data analyst, atau bahkan pindah jalur komoditas. Bukan karena tidak mampu, tapi karena secara emosional dan finansial, dunia eksplorasi terasa “nggak masuk akal” lagi: penuh ketidakpastian, gaji awal yang tak sebanding, dan beban kerja yang sering tidak manusiawi.

2. Generasi Z Enggan Turun ke Lapangan: Dunia Digital Terlalu Nyaman

Generasi Z lahir di era internet, tumbuh dengan teknologi, dan terbiasa dengan kecepatan. Apa pun bisa diakses lewat satu klik. Sayangnya, kebiasaan ini membentuk ekspektasi yang tidak cocok dengan realitas eksplorasi geologi yang memerlukan proses (lambat), kotor, dan penuh ketidakpastian.

Banyak yang menganggap lapangan itu terlalu melelahkan, merepotkan, terlalu panas, terlalu lembab, atau terlalu jauh dari sinyal. Eksplorasi butuh kesabaran, sementara kami dibesarkan dalam budaya instan. Hal ini membuat minat untuk benar-benar “turun ke tanah” makin berkurang. Di sisi lain, pekerjaan geologi yang berbasis data atau modeling di ruang ber-AC terasa jauh lebih menarik, bergengsi, dan “instagrammable / storiable” di medsos.

3. Hilangnya Role Model dan Minimnya Apresiasi

Di kampus, sangat sedikit dosen atau praktisi yang benar-benar menekankan pentingnya discovery. Bahkan di seminar nasional pun, kata “penemuan” makin jarang terdengar dan digantikan oleh “optimasi”, “digitalisasi”, atau “efisiensi tambang”. Bukannya buruk, tapi kesannya kita sedang melupakan akar.

Apresiasi terhadap eksplorasi juga terasa minim. Sering kali, kerja keras tim eksplorasi tidak mendapat tempat di spotlight. Padahal, tanpa penemuan baru, tidak akan ada tambang yang bisa dioptimasi atau didigitalisasi.

4. Stabilitas Finansial dan Kontrak Tetap Jadi Tujuan Utama

Banyak dari kami yang bilang: “Gue sih mending kerja yang jelas gajinya, jelas kontraknya, dan nggak perlu camping di hutan berbulan-bulan.” Dan jujur, aku pun sering mikir hal yang sama. Kerja eksplorasi identik dengan kontrak pendek, lokasi terpencil, dan masa depan yang blur karena “jahat”nya optimalisasi sistem keuangan perusahaan maupun global yang mengharuskan eksplorasi digolongkan sebagai beban perusahaan (Expenses) untuk mendapatkan profit. Hal inilah yang membuat kami terlihat seperti kutu loncat di hampir seluruh perusahaan. Dalam situasi ekonomi seperti sekarang, siapa yang bisa menyalahkan kami karena ingin kepastian? Sayangnya, ketika geologist mulai menjauh dari eksplorasi, kita secara kolektif kehilangan inti dari profesi ini: menemukan sesuatu yang belum ditemukan. Justru kebanyakan dari kami “boro-boro deh mikirin discovery”.

5. Eksplorasi Butuh Semangat Petualangan, yang Kini Mulai Padam

Eksplorasi sejatinya adalah petualangan ilmiah—menggabungkan rasa ingin tahu, keberanian, dan sains. Tapi semangat itu terasa mulai padam di generasi kami. Bukan karena kami malas atau tak mampu, tapi karena sistem tidak memberi ruang untuk berkembang dalam arah itu.

Birokrasi, tuntutan administratif, dan target-target produksi yang terlalu tinggi untuk proyek eksplorasi membuat banyak dari kami berpikir dua kali untuk terjun ke dunia discovery.

Solusi

Bangun kembali narasi romantisme penemuan yang menginspirasi, bukan hanya angka produksi.

Sebagai generasi yang katanya “paling adaptif” dan “paling digital”, kami, Gen Z sebenarnya punya potensi luar biasa untuk reinvent dunia eksplorasi. Asal kita mau diingatkan bahwa jadi geologist bukan cuma tentang kerja mapan, tapi juga tentang menemukan sesuatu yang berarti.

#welistenwedontjudge

Penulis: Mochamad Risyad Rizkyafdhal

Tinggalkan komentar